ALQURAN & RAHASIA ANGKA (6) - Para Penulis I’jaz Nudhum (Susunan Kata) Al-Quran - SaLam CinTa
Headlines News :
Home » » ALQURAN & RAHASIA ANGKA (6) - Para Penulis I’jaz Nudhum (Susunan Kata) Al-Quran

ALQURAN & RAHASIA ANGKA (6) - Para Penulis I’jaz Nudhum (Susunan Kata) Al-Quran

Written By Achmad Marzuqi, S.Pd.I on Rabu, 27 Juni 2012 | 17:41

AI Jahidh Abu Utsman bin Bahr bin Mahbud Al-Kannani al­Mu'tazili, termasuk salah seorang ulama balaghah terkemuka, memandang bahwa rahasia i’jaz Al-Quran adalah pada susunan katanya. Beliau mengatakan: "Di dalam AI-Quran ada bukti yang menunjukkan kepada kita bahwa ia merupakan kitab yang benar, yaitu susunannya yang indah yang tidak mungkin manusia dapat membuat yang serupa dengannya. Selain itu juga terdapat bukti­bukti yang dibawa oleh pembawa Al-Quran."

Selanjutnya Al-Jahidh menunjukkan berbagai definisi mengenai balaghah yang diteruskan dengan memilih definisi ter­baik baginya. Beliau mengatakan: "Al-Farisi ditanya: 'Apakah yang dimaksud dengan balaghah?' Dia menjawab: 'Mampu mem­bedakan al-fashl dari al-mashl.' Al-Yunani ditanya: 'Apakah yang dimaksud dengan balaghah?' Dia menjawab: 'Membenarkan aqsam dan memilih kalam (pembicaraan).' Kepada Al-Rumi ditanyakan: 'Apakah yang dimaksud dengan balaghah?' Dia menjawab: 'Baik dalam melakukan improvisasi (iqtidhab) secara spontan dan dalam melakukan pelimpahan (ghazarah) ketika diperlukan ekstensi.' Al-Hindi ditanya: 'Apakah yang dimaksud dengan balaghah?' Dia menjawab: 'Petunjuk yang jelas, mengefektifkan waktu, dan memberi isyarat dengan baik.' Seorang Arab badui ditanya: 'Apakah yang dimaksud dengan balaghah?' Ia menjawab: 'Melakukan penyederhanaan (i’jaz) dengan tidak melemahkan, dan melebih­lebihkan dengan tidak sia-sia.' Ibnu Al-Muqaffa' juga ditanya: 'Apa yang dimaksud dengan balaghah?' Dia menjawab: 'Balaghah ialah sebuah nama (isim) yang serba mencakup (jami') berbagai makna yang berlaku untuk banyak hal. Di antaranya terjadi ketika diam, ketika mendengar, ketika mengisyaratkan, berargumentasi, menjawab, memulai pembicaraan, bersajak, berkhutbah dan ketika menulis surat. Termasuk yang umum dalam persoalan-persoalan ini ialah pewahyuan padanya dan pengisyaratan kepada makna, dan i’jaz (penyederhanaan) juga merupakan balaghah.'

"Amru bin Abid ditanya: 'Apakah yang dimaksud dengan balaghah?' Dia menjawab: 'Yang mengantarkan engkau ke sorga dan yang menyingkirkan engkau dari neraka . . .' Orang yang bertanya berkata lagi: 'Bukan itu yang aku inginkan.' Ketika Amru dan orang yang bertanya itu masih berdialog, akhirnya Amru berkata: 'Nampaknya engkau menghendaki kata-kata pilihan yang mudah untuk dipahami.' 'Benar', jawab yang bertanya. Kemudian Amru mulai menjelaskan definisinya dengan mengatakan: 'Sekira­nya engkau menyatakan hujjah Allah kepada orang-orang mukallaf, meringankan beban mereka yang mendengar dan menghiasi makna-makna tersebut pada hati orang-orang yang menghendaki dengan kata-kata yang enak didengar, dapat diterima oleh pikiran untuk segera dilaksanakan, dan dengan kata-kata yang bisa menghilangkan keruwetan hati ketika menasihatkan yang baik, berdasarkan Al-Quran dan sunnah, maka pada dasarnya engkau telah menyampaikan fashl al-khithab (ungkapan yang jelas) dan layak mendapatkan balasan yang tinggi'."

Selanjutnya al-jahidh mengungkapkan definisi terbaik me­nurut dia dengan mengatakan: "Sebagian orang mendefinisikan - definisi yang saya pilih - bahwa suatu pembicaraan tidak memiliki nilai balaghah sehingga maknanya (dapat dipahami) secepat lafaznya dan lafaznya secepat maknanya. Lafaznya tidak boleh terdengar olehmu lebih cepat dari sampainya makna lafaz tersebut ke dalam hatimu." Selanjutnya Amru mengatakan: "Sebaik-baik pembicaraan ialah yang dengan mengucapkan sedikit ucapan maknanya tampak pada dhahir katanya, dan Allah telah meng­anugerahkan ketinggian dan memolesnya dengan cahaya kebijakan sejalan dengan niat dan ketakwaan yang mengatakannya. Yaitu, ketika maknanya mulia dan katanya baligh (memiliki nilai balaghah), dicetak dengan benar, tidak mengundang kebencian, tidak memiliki kekurangan, terjaga dari dibuat-buat, dan menyerap ke dalam hati seperti menyerapnya air hujan ke dalam tanah yang gembur."

Al-jahidh memandang bahwa rahasia i’jaz AI-Quran adalah pada susunan bahasanya yang indah dan pada komposisinya yang menakjubkan. Mengenai hal itu dia mengatakan: "Al-Quran adalah kalam yang berbeda dengan seluruh kalam yang lain, baik puisi maupun prosa. Al-Quran merupakan kalam yang tidak bersajak yang berbeda dengan syair dan sajak dan susunan kata Al-Quran merupakan bukti yang paling agung. Begitu juga komposisinya merupakan hujjah terbesar."

Mengenai sebuah kata yang baik untuk disusun dengan baik dalam sebuah kalimat, menurut al-jahidh disyaratkan harus bebas dari tanafur al-huruf (ketidakserasian huruf) sehingga terkesan satu huruf ..... Dengan demikian maka huruf "jim" tidak boleh bersamaan dengan huruf "dha", "qaf", "tha" dan "'ain", baik sebelum maupun sesudahnya. Begitu juga huruf "zai" tidak boleh bersamaan dengan huruf "dha", "sin", "dladl" dan "dzal" sesebelum atau sesudahnya. Ini merupakan hal yang harus dibahas secara luas. Dengan menyebutkan sedikit contoh tersebut diharap­kan sudah cukup untuk menunjukkan arah yang sedang kita bahas."

Di bawah ini al jahidh memberi contoh mengenai kata-kata yang mengalami tanafur al-huruf:

 

 

 

wa qabru harbin bi makanin faqrin

wa laisa qurba qabri harbin qabrun

 

"Kuburan musuh itu berada di tempat yang sunyi dan gersang,

dan di dekat kuburan tersebut tidak ada kuburan lain."

 

Sya'ir yang lain:

 

 

 

lam yadhurraha wa al-hamdu lillahi syai'un wa intsanat nahwa 'azfi nafsin dzahuli

 

"Tak ada sesuatu pun yang akan membahayakan, Alhamdulillah.

Ia berceloteh dengan nyanyian jiwa yang tak sadar."

 

Mengenai syair terakhir ini, ia mengomentari bahwa separuh akhir dari bait tersebut hilang sehingga akan anda temukan bahwa sebagian lafaznya tidak berkaitan dengan yang lain.

Ketika menjelaskan pengertian i’jaz, Al-Jahidh mengatakan: "Memperbanyak ungkapan itu pada tempatnya, bukanlah hal yang sia-sia. Begitu pula memperpendek pada tempatnya, bukan berarti merupakan kelemahan ....  Kita perhatikan bahwa ketika Allah SWT menyeru orang Arab dan orang-orang Badui, Ia sering menggunakan bahasa isyarat, sindiran, dan kadang-kadang membuang sebagian kalimat. Lain halnya ketika Ia menyeru Bani Israil atau ketika menceriterakan tentang mereka, Ia selalu menggunakan bahasa yang terurai dan panjang lebar."

Menurut al jahidh, isti'arah ialah menamakan sesuatu dengan nama yang lainnya, ketika bisa menempati kedudukannya. Beliau memberikan contoh dari Al-Quran, yaitu firman Allah:

 

 

 

Itulah hidangan untuk mereka pada hari pembalasan. (Al-Waqiah: 56)

 

Menurut al-jahidh, siksa itu bukanlah hidangan, akan tetapi ketika siksa itu diberikan bersamaan dengan diberikannya kenikmatan bagi orang lain, maka siksa bisa dikatakan sebagai hidangan.

Penulis I’jaz Al-Quran, Abu Muhammad Abdullah bin Muslim bin Qutaibah al-Dinuri, di awal bukunya, Ta'wil Musykil Al-Quran, beliau menjelaskan bentuk i’jaz Al-Quran dengan mengatakan:

"Ambisi mereka yang melakukan tipu daya itu telah terhalang oleh kemukjizatan susunan Al-Quran dan keteraturannya sehingga terlepas dari upaya-upaya mereka yang mau menyelewengkannya."

Ibnu Qutaibah juga menyifatkan Al-Quran dengan mengata­kan: "Al-Quran tidak diciptakan dengan banyak sanggahan; dengan keajaiban yang tidak habis-habis dan faedah yang tidak henti-hentinya." Selanjutnya mengenai ayat-ayat mutasyabih menurut beliau bukanlah ayat-ayat yang tidak bisa dipahami oleh mereka yang mendalam ilmunya (al-rasikhuna fi al-'ilm). Firman Allah:

 

 

 

. . dan ta'wil itu tidak ada yang mengetahuinya selain Allah dan mereka yang mendalam ilmunya. (Ali Imran: 7)

 

Sehubungan dengannya, beliau mengatakan: "Saya tidak termasuk orang-orang yang beranggapan bahwa ayat-ayat mutasyabih merupakan ayat-ayat yang tidak bisa dipahami oleh mereka yang mendalam ilmunya. Sebab, Allah tidak akan menurunkan sesuatu pun dalam Al-Quran, melainkan pasti bermanfaat bagi hamba­hamba-Nya dan dengannya hendak menunjukkan makna kehendak­Nya."

Termasuk juga ulama yang menulis mengenai i’jaz AI-Quran ini, Abul Hasan Ali bin Isa al-Rummani, wafat tahun 384 H. Buku yang ditulis oleh Abul Hasan ialah Al-Nukar fi I'jaz Al-Quran, Mengenai i’jaz ini, beliau pada mukadimah bukunya mengatakan: "Segi-segi i’jaz AI-Quran tampak pada tujuh hal, yaitu pada ketidakbertentangan satu sama lain kendatipun tuntut­an dan kebutuhan begitu banyak, pada tantangannya untuk seluruh (jin dan manusia), sharfah (pemalingan); balaghah, kebenarannya mengenai berita-berita yang akan datang, perombak­an adat kebiasaan, dan pada qias-nya bagi seluruh mukjizat." Mengenai keyakinan Al-Rummani, seorang Mu'tazili, menge­nai arti i’jaz bi al-sharfah, beliau berpendapat seperti kebanyakan kaum Mu'tazilah. Adapun mengenai balaghah, Al-Rummani men-definisikannya dengan mengatakan: "Balaghah pada dasarnya ialah menyampaikan makna ke dalam hati dengan kata yang sebaik­baiknya."

Menurut beliau, balaghah ada sepuluh macam: i’jaz (penye­derhanaan), tasybih (penyerupaan), isti'arah (metafora), talazum (keserasian), fawashil (keterpeliharaan sajaknya), tajanus (ke­sejenisan), tashrif (pemalingan), tadhmin (pengandungan), mubalaghah (pemaksimalan penyampaian makna), dan husn al-bayan (penjelasan yang baik).

Menurut beliau ada dua macam i'iaz hadzf. Contoh i'jaz di dalam Al-Quran:

 

 

 

Dan tanyalah (penduduk) negeri . . . (Yusuf: 82)

 

Kedua macam ijaz hadzf tersebut:

 

Pertama, i'iaz ajwibah (jawaban), contoh firman Allah:

 

 

 

Dan sekiranya ada suatu bacaan (Kitab suci) yang dengan bacaan ini gunung-gunung dapat diguncangkan atau bumi dapat terbelah atau oleh karenanya orang-orang yang sudah mati dapat berbicara (tentu dia adalah Al-Quran). (AI-Ra'd: 31)

 

Kedua, i'jaz qashr. Contoh, firman Allah:

 

 

 

 Sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri. (Yunus: 23)

 

Menurut Al-Rummani ijaz qashr ialah membuat suatu pem­bicaraan dengan menyedikitkan kata dan memadatkan makna tanpa adanya hadzf (ellipis).

Al-Rummani membedakan balaghah antara firman Allah dengan ucapan manusia. Firman Allah:

 

 

 

Dan di dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagi kalian. (Al-Baqarah: 179)

 

Ucapan manusia:

 

Pembunuhan itu akan lebih meniadakan pembunuhan.

 

Antara kedua ungkapan di atas ada empat perbedaan.

Al-Rummani mengatakan: "Ayat di atas lebih banyak kandungan maknanya, lebih memiliki i’jaz (penyederhanaan) da­lam ungkapan; lebih selamat dari ketidakenakan (kulfah) karena pengulangan kalimat, dan komposisinya lebih baik pada huruf­huruf yang bersambung secara harmonis."

Ayat tersebut dikatakan lebih banyak kandungan maknanya, karena setiap kandungan makna pada ungkapan 'al-qatlu anfa li al-qatli" sudah terkandung pada makna ayat di atas, bahkan selain makna tersebut, ayat di atas juga mengandung berbagai makna yang baik. Di antaranya, dengan menyebutkan qishash, ada makna keharusan menegakkan keadilan. Dengan menyebutkan kata "hayat" mengandung makna "tujuan" (hidup). Termasuk juga di dalamnya terkandung makna ajakan untuk menyintai dan menaati hukum Allah atasnya.

Adapun ungkapan ayat di atas dikatakan lebih memiliki i’jaz (keringkasan), karena yang pertama, yaitu "al-qatlu anfa li al­qatli", terdiri dari 14 huruf, dan yang kedua terdiri dari 10 huruf. Sedangkan ketidakefektifan karena pengulangan merupakan kesulitan tersendiri. Tegasnya pada ungkapan 'al-qatlu anfa li al­qatli" terjadi pengulangan kata "qatl" sehingga ungkapan Al-Quran tersebut di atas lebih baligh daripadanya. Dan ketika pengulangan terjadi, dalam ilmu balaghah dipandang tidak baligh. Baiknya suatu kompusisi dengan huruf-huruf yang relevan merupakan sesuatu yang dapat dirasakan dan terdapat pada lafaz ayat. Setelah huruf "fa" kemudian "lam" adalah lebih mudah diucap­kan dibanding setelah huruf "lam" adalah huruf "hamzah", karena jauhnya letak "hamzah" dari "lam". Begitu pula pengucapan huruf "shad" sebelum huruf "ha" lebih mudah daripada setelah huruf "alif" adalah "lam". Dengan terkumpulnya masalah-masalah tersebut, seperti telah kami sebutkan, jelas Al-Quran lebih baligh dan lebih baik, kendatipun betapa baligh dan baiknya ucapan mereka.

Penulis i’jaz AI-Quran yang paling masyhur adalah Al-Qadhi Abu Muhammad bin Al-Thayyib bin Muhammad bin Ja'far bin Al­Qasim yang dikenal dengan Al-Baqillani, wafat tahun 40 H. Buku­nya, i’jaz Al-Quran, merupakan buku paling penting mengenainya. Al-Baqillani menyebutkan berbagai macam i’jaz dalam struktur AI-Quran. Di antaranya mengenai kalimat, bahwa struktur AI­Quran, dengan berbagai macamnya, berada di luar struktur seluruh ucapan mereka yang dijanjikan, dan berbeda dengan komposisi seruan mereka. Ia memiliki uslub (struktur kalimat) yang khas dan memiliki karakteristik khusus dalam penggunaannya dan berbeda dengan seluruh uslub ucapan biasa. Pada dasarnya,bentuk-bentuk ungkapan itu antara lain adalah syair dan ucapan teratur yang tidak bersajak, ucapan harmonis yang bersajak, ucapan teratur yang harmonis dan tidak bersajak, serta ucapan biasa. Al-Quran sendiri berada di luar bentuk-bentuk struktur di atas dan berbeda dengannya. Ketika Al-Quran berbentuk demikian, maka ia tidak termasuk ungkapan-ungkapan biasa dan merupakan mukjizat.

Alasan kedua, bahwa orang-orang Arab tidak memiliki bahasa (ungkapan) yang sampai pada tingkat kefasihan dan keagungan, susunan yang indah, makna-maknanya yang lembut, kandungan­kandungan yang sangat kaya, hukum yang banyak, keharmonisan dalam balaghah, dan perumpamaan (tasyabuh), dalam hal efisiensi sedemikian. Bagaimanapun kaum bijak di kalangan mereka hanya mampu mengungkapkan kalimat-kalimat yang terbatas dengan sedikit kata-kata; para penyair di kalangan mereka hanya mampu membuat kasidah-kasidah yang sangat terbatas, yang pada dasar­nya bisa kita katakan sebagai kekurangannya yang tampak dari perbedaan yang kita temukan padanya; tidak terlepas dari ta'ammul (kontemplasi), takalluf (dibuat-buat), tajawwuz (ber­lebihan), dan ta'assuf (disesali). Sementara AI-Quran, dengan kata yang begitu banyak dan kalimat yang begitu panjang tetap fasih . . .

Alasan ketiga, bahwa keajaiban susunan kata Al-Quran, dan keindahan komposisinya tidak berubah kendatipun digunakan dalam berbagai persoalan yang berbeda seperti dalam menyebut­kan kisah-kisah, nasihat, argumentasi, hukum, pemaafan, peringatan, janji, ancaman, berita gembira, berita menakutkan, pensifat­an, pengajaran akhlak mulia, sifat-sifat luhur, perjalanan (sair ma'tsurah) dan sebagainya. Betapa pun baligh dan sempurnanya ucapan seorang ahli balaghah; betapa pun piawainya seorang penyair; dan betapa pun hebatnya seorang singa podium, ungkapan mereka akan berubah sejalan dengan perubahan per­soalan-persoalannya.

Alasan keempat, setiap ungkapan ahli balaghah tetap akan berbeda dalam melakukan pemisahan dan penyambungan kata, tinggi rendahnya, jauh dekatnya, dan sebagainya berdasarkan perbedaan seruan ketika menyusun kalimat; ungkapan pun akan ber­beda ketika men-dhammah-kan dan menjamakkan. Tidakkah anda melihat betapa banyak di antara para penyair yang tidak akurat ketika berpindah dari satu arti kepada arti yang lain; ketika keluar dari satu bab kepada bab yang lain? Sedangkan Al-Quran dengan perbedaan bentuk yang banyak dan cara-cara yang beragam mampu membuat yang mukhtalaf (berbeda) seperti mu'talaf (bersatu), yang tidak sejalan seperti sejalan, yang mutanafir (tidak membentuk kesatuan) dalam hal individu menjadi kesatuan. Ini merupakan hal yang menakjubkan, memperjelas kefasihan, menampakkan adanya balaghah dan menjadi bukti bahwa Al-Quran bersifat supranatural dan bukan suatu hal yang biasa ('urf).

Alasan kelima, bahwa struktur kalimat Al-Quran menempati tingkat balaghah yang berada di luar kebiasaan ucapan manusia dan jin. Mereka tidak akan mampu membuat ungkapan yang serupa dengannya, sebagaimana tidak mampunya kita; mereka tidak akan berdaya sebagaimana tidak berdayanya kita.

Alasan keenam, keterbagian suatu seruan dariyang sederhana dan pendek, mengumpulkan dan memisahkan, metafora dan jelas, meremehkan dan menegaskan dan bentuk-bentuk seruan yang lain (yang ada di dalam ungkapan manusia dan AI-Quran), semua itu adalah merupakan hal yang terjadi pada batas-batas ucapan biasa manusia di antara mereka, baik dalam hal kefasihan, keindahan dan balaghah.

Ketujuh, adanya sepertiga makna yang dikandungnya pada prinsip peletakan syariat dan hukum, hujjah-hujjah dalam prinsip agama, penolakan terhadap mereka yang mengingkari Tuhan, yaitu berdasarkan tujuh kata tersebut, kesesuaiannya satu sama lain dalam hal kelembutan dan keindahan, tidak mungkin dapat dilakukan oleh manusia.

Kedelapan, Al-Quran telah menjelaskan keutamaan, kelebih­an, dan kefasihannya, ketimbang sebuah kata yang banyak digunakan dalam berbagai bahasa atau syair, sehingga indah didengar dan dirindukan oleh jiwa. Bentuk keindahannya begitu berbeda dengan seluruh yang bisa dibandingkan dengannya, laksana berbedanya sebiji jagung pada sebuah tali mutiara, dan laksana mata intan permata pada seuntai tali. Anda melihat sebuah kata Al-Quran pada pelbagai ungkapan kata-katanya tak berbeda seperti perbandingan di atas, ia laksana sinar bagi keseluruhan kata-katanya dan penengah ikatannya, ia menyeru agar keindahan, apa yang dikandung dan ditunjukkannya pada jenis dan airnya, dibedakan dan diistimewakan.

 

Kesembilan, huruf-huruf yang digunakan dalam bahasa Arab berjumlah 29 huruf; jumlah surat yang dibuka dengan huruf juga berjumlah 29 surat; serta huruf-huruf yang disebut pada awal surat, yang terdiri dari huruf-huruf mu'jam, berjumlah 14 huruf - dengan tidak menghitung huruf yang diulang, sebab huruf tersebut sudah diwakili oleh huruf sebelumnya. Perlu diketahui, bahwa bahasa Arab diatur dengan huruf-huruf yang mereka gunakan dalam pembicaraan mereka.

Kesepuluh, mudah diungkapkan, tidak kasar, tidak vulgar, tidak asing, tidak menyebabkan ditolak, tidak dibuat-buat, mudah dipahami, maknanya sampai ke hati mendahului lafaznya, pemahamannya lebih dahulu sampai ke jiwa daripada ungkapan­nya. Dengan begitu ia tidak musykil dan tidak sulit dikomunikasikan.

Menurut Al-Baqilani, metode untuk mengetahui i’jaz Al­Quran ialah pertama, seorang peneliti i’jaz Al-Quran harus menguasai bahasa Arab, menguasai sejauh mana tingkat kefasihan seorang pembicara, dan mengetahui kesempitannya. Ia juga harus bisa membedakan antara jenis komunikasi lisan, tulisan prosa dan syair, dan bisa membedakan antara syair yang baik dan yang jelek; bisa membedakan antara (ungkapan) yang fasih dan yang indah, antara yang efisien dan yang asing (gharib); bisa membedakan antara karakteristik seorang penyair yang satu dengan penyair yang lain, penulis yang satu dengan penulis yang lain; dan juga tidak boleh lalai terhadap siapa pendistorsi kata dan makna, siapa yang menemukannya dan siapa yang mengumpulkannya, siapa yang terang-terangan mengambil dari yang menyembunyikannya, siapa yang menemukan ungkapan dan yang mempopulerkannya dengan tiba-tiba, apa yang dikatakan tentangnya, dan bagaimana koreksi terhadapnya yang dilakukan dengan bertahap sehingga tercapai apa yang dikehendakinya dan diulangnya pandangan mengenainya.

Apabila seseorang memperhatikan struktur kalimat Al-Quran, kemudian memperhatikan struktur kalimat-kalimat pembicaraan Rasulullah saw. atau pembicaraan para ahli balaghah yang hidup sezaman dengan beliau, niscaya dia akan menemukan perbedaan antara kedua struktur pembicaraan tersebut; atau memperhatikan sebagian syair yang disepakati sebagai syair yang baik dan memperhatikan balaghah Al-Quran dan keajaiban efisiensinya, maka ketika itu dia akan mendapati petunjuk, layaknya petunjuk seorang alim (mengenainya), dan akan mengetahui bagaimana perasaan seorang kritikus atas i’jaz struktur kalimat Al-Quran sehingga mereka pasti memandang kalamullah berbeda dari pem­bicaraan makhluk.

AI-Baqilani selanjutnya menunjukkan sebagian khutbah Rasulullah dan surat-surat beliau, dan mengatakan: "Aku tidak pernah mengira bahwa anda tidak mampu membedakan antara keindahan Al-Quran dan ucapan Rasulullah saw. yang kami tunjukkan kepada anda. Anda perhatikan bahwa anda sedang membaca dua bentuk kalam (pembicaraan) dengan karakteristik yang jauh berbeda sehingga anda pasti akan mengetahui bahwa struktur kalimat Al-Quran merupakan perkara ilahi, sedangkan pembicaraan (kalam) Nabi merupakan perkara nabawi.

Termasuk di antara penulis mengenai balaghah dan ijaz AI-Quran ialah Abdul Qahir bin Abdul Rahman bin Muhammad Al Jurjani, wafat tahun 471 atau 474 H.  Mengenai balaghah dan i'jaz Al-Quran ada tiga buku yang ditulis oleh AI Jurjani. Pertama, Asrar Al-Balaghah. Dalam buku ini beliau berupaya mengklasifikasikan dasar-dasar hukum berdasarkan pendekatan adabi (sastra) menurut tolok ukur yang benar - setelah melihat per­bedaannya mengenai analogi al-kalam al-baligh (pembicaraan yang baligh) dengan penulis sebelumnya - apakah makna atau kata, atau sekaligus kata dan makna. Misal, AI-Jahidh, seorang penulis sebelum Al-Jurjani, menolak eksistensi makna sebagai tolok ukur. Dalam hal ini Al-Jahidh mengikuti pendapat Abu Hilal Al-'Askari. Adapun Al-Jurjani yang datang kemudian menegaskan bahwa rahasia balaghah adalah pada makna yang dilahirkan oleh kata-kata (al-fadh), yaitu ketika kata-kata tersebut tersusun sedemikian sehingga urutan kata-kata tersebut dalam suatu pembicaraan ber­dasarkan urutan makna-maknanya dalam jiwa, di samping makna­makna itu, susunannya dalam jiwa sejalan dengan kehendak akal. Setelah Al-Jurjani menetapkan asumsi demikian, beliau mulai menjelaskan metode yang harus digunakan dalam mempelajari makna, keadaan-keadaannya dan penggunaannya dalam pem­bicaraan yang baligh. Beliau selanjutnya mengatakan: "Ketahuilah bahwa tujuan pembicaraan yang saya lakukan, dan dasar-dasar yang saya gunakan untuk menjelaskan persoalan makna, bagaimana ia sejalan dan tidak sejalan, dari mana ia berkumpul dan berpisah; untuk menjelaskan jenis dan macamnya, untuk menyelidiki dengan seksama mengenai kekhususan dan keumumannya; untuk menjelaskan keadaannya sejalan dengan posisi layak menurut akal dan menempatkannya secara proporsional, kedekatan atau jauh hubungan darinya ketika tidak dihubungkan dengannya, dan wujudnya sebagai penyumpah setia atas dasar nasab atau orang yang salah pada suatu kaum yang tidak lagi diterima oleh kaum tersebut, tidak dihiraukan dan tidak lagi ada yang membela­nya." Selanjutnya Al-Jurjani menjelaskan bagaimana caranya mencapai tujuan tersebut dengan mengatakan: "Ini merupakan tujuan yang tidak hanya dicapai dengan satu cara, suatu perminta­an yang tidak akan tercapai dengan semestinya kecuali setelah didahului dengan pendahulu-pendahulu dan prinsip-prinsip yang mengantarkannya. Ia merupakan sejumlah persoalan laksana perangkat-perangkat yang di dalam tujuan tersebut terdapat hak­haknya yang harus dikumpulkan. Dan perumpamaan-perumpamaan perkataan adalah laksana jarak jarak, yang selain perkataan ter­sebut, jarak-jarak itu harus ditempuh dengan pikiran dan harus dipastikan. Pandangan pertama hal demikian adalah ungkapan mengenai tasybih (penyerupaan), tamtsil (perumpamaan) dan isti arah (metafora). Pada dasarnya prinsip-prinsip yang banyak ini yang mengambil keindahan-keindahan pembicaraan yang tidak pernah kita katakan seluruhnya, bercabang daripadanya dan kembali kepadanya; ia laksana kutub-kutub yang dikelilingi makna-makna dalam pengaturannya, berputar kepadanya laksana daerah-daerah dari arah-arahnya."

Dengan    pernyataan-pernyataan tersebut Al Jurjani ingin memberikan alasan terhadap bentuk balaghah i'jaz Al-Quran dan ingin memberikan alasan hukum terhadap pembicaraan yang baligh dengan rinci dan mendalam; tidak hanya cukup dengan menyifati karakteristik-karakteristik balaghah secara global.

Berikut ini akan ditunjukkan tema-tema balaghah dalam pembicaraan, beliau mengatakan: "Bahkan, kalian masih harus memberitahukan kepada kita posisi keistimewaan suatu pembicaraan dan kalian juga harus menyifatinya untuk kita; harus menyebutkan sebagaimana layaknya sesuatu itu di-nash-kan dan ditentukan, bentuknya harus disingkapkan dan dijelaskan. Kalian tidak hanya cukup mengatakan: 'Pada dasarnya ia merupakan keistimewaan pada struktur dan bahwa ia merupakan metode khusus dalam membangun suatu pembicaraan sebagian atas sebagi-an lainnya.' Sehingga kalian harus menyifati keistimewaan ter­sebut, menjelaskan dan memberikan contoh-contohnya serta mengatakan, misal, begini dan begitu ... Apabila seorang mengatakan pada anda mengenai penafsiran suatu fashahah (kefasihan), sesungguhnya ia merupakan keistimewaan pada struktur pembicaraan dan menggabung sebagian pembicaraan tersebut dengan sebagian lainnya dengan metode tertentu, atau dengan cara yang akan menunjukkan suatu manfaat, atau bahwa pembicaraan global yang serupa dengannya cukup urltuk mengetahuinya dan telah bisa memberikan pengetahuan tentangnya, maka hal serupa itu sudah cukup untuk mengetahui seluruh pembuatan. Maka, tak ubahnya seperti untuk mengetahui penenunan sutra yang motifnya bermacam-macam, cukup dengan mengetahui bahwa ia merupakan aturan pemintalan dengan pola tertentu, dan untuk kekuatan sutra tersebut sebagian dirajut dengan.sebagian lainnya dengan berbagai macam cara. Hal demikian adalah merupakan sesuatu yang tidak akan dikatakan oleh seorang yang berakal."

Adapun AI-Syafiyak, buku yang ditulis oleh Al Jurjani, di­maksudkan untuk menegaskan kelemahan orang-orang Arab dalam menentang Al-Quran. Tulisan ini didasarkan atas pandangannya dalam buku Asrar Al-Balaghah, beliau mengatakan: "Pada dasar­nya orang-orang Arab yang diseru oleh Al-Quran sudah masyhur dengan balaghah dan kefasihannya. Mereka menjadi teladan mengenainya, dan mereka yang datang kemudian pun mengikuti dan berutang atas mereka. Ketika dibacakan kepada mereka Al­Quran dan ditantang mengenainya, mereka tidak ragu atas ke­lemahan mereka dalam menentang Al-Quran dan membuat yang serupa dengannya; mereka juga tidak menyatakan kepada diri mereka bahwa mereka memiliki cara untuk sampai kesana dengan bentuk tertentu. Haltersebut dibuktikan dengan petunjuk-petunjuk mengenai keadaan dan perkataan-perkataan mereka. Apabila mereka benar-benar tidak pernah menentang Al-Quran, maka sudah bisa dipastikan bahwa Al-Quran merupakan mukjizat."

Sedang buku ketiga, yaitu Dala'a AI-I’jaz, menegaskan bahwa zat Al-Quran sendiri merupakan mukjizat (mu jiz bi dzatih) dan bahwa rahasia i'jaz al-balaghi terletak pada strukturnya. Dalam buku ini, Al Jurjani berbicara mengenai pandangan (terhadap struktur) dan membaginya kepada dua bagian.

Pertama, dalam bukunya beliau menegaskan bahwa ilmu dengan posisi-posisi makna dalam jiwa diketahui dengan posisi­posisi katanya yang menjadi petunjuk, ketika bicara. Beliau mengatakan: "Sungguh tidak terbayang anda akan mengetahui letak suatu kata tanpa mengetahui maknanya, dan secara sengaja menyusun dan menertibkan kata-kata bukan pada susunannya, juga anda telah sengaja menyusun kata-kata tersebut dalam makna­maknanya dan anda telah memikirkannya. Bila menurut anda hal itu telah sempurna, telitilah pengaruh-pengaruhnya. Jika anda telah selesai menyusun makna-makna tersebut dalam hati, anda tidak akan berhasil membuat kalimat hingga mulai berpikir untuk menyusun kata-kata. Bahkan anda akan menemukan susunan tersebut atas dasar bahwa kata-kata tersebut adalah pembantu makna, yang mengikuti dan melekat padanya."

Kedua, dalam buku tersebut Al jurjani menegaskan bahwa makna-makna yang berkaitan dengan pikiran dan disusun di dalam jiwa merupakan makna-makna nahwi, bukan makna-makna kata itu sendiri.

 

Beliau mengatakan: "Sungguh tidak pernah diasumsikan bahwa pikiran berkaitan dengan makna-makna pembicaraan secara sendiri-sendiri dan terpisah dari makna-makna nahwi; tidak pernah ada anggapan, juga tidak bisa dibenarkan oleh akal apabila se­seorang berpikir bahwa makna fi'il (kata kerja) ada sekalipun tidak digabungkan dengan isim (nomina), atau makna asim ada sekalipun tanpa harus digabungkan dengan fi'il sehingga bisa menjadi fa'il (pelaku) baginya, atau menjadi maf'ul (obyek); atau apabila ia menghendaki suatu hukum yang bukan hukum-hukum tersebut seperti apabila ia mau menjadikannya sebagai "mubtada" atau "khabar" atau "sifat" atau "hal". Dan apabila anda mau melihat lebih jelas hal demikian, silakan anda ambil suatu kalimat, kemudian pisahkan kata-katanya dari letak-letaknya dan letakkan kata-kata tersebut pada posisi yang tidak bisa digabungkan dengan makna-makna nahwi-nya. Misalkan bila anda mengatakan: qafa nabbuka min dzikra habibun wa munazzilun . ... kemudian dikatakan: min, nabbuka, qafa, habibun, dzikra, munazzilun. Apakah ketika itu pikiran anda berkaitan dengan makna kata-kata tersebut? Bagaimana mungkin tujuan anda akan sejalan dengan makna kata tanpa anda mengaitkannya dengan makna kata yang lain? Makna tujuan kepada makna-makna perkataan yakni untuk memberitahukan kepada pendengar sesuatu yang belum diketahuinya. Adalah maklum bahwa ketika anda berbicara yang anda maksudkan bukanlah untuk memberitahu pendengar mengenai makna masing-masing perkataan yang anda bicarakan. Anda tidak akan mengatakan "Zaid keluar" hanya untuk memberitahu arti "keluar" dan "Zaid" secara bahasa. Sungguh tidak mungkin anda akan berbicara kepadanya dengan menggunakan kata-kata yang tidak dipahami olehnya. Dengan demikian, fi'il itu sendiri apabila tidak disertai dengan isim dan isim dengan tidak disertai isim yang lain atau fi'il tidaklah dikatakan sebagai "kalam". Seandainya anda mengatakan "kharaja" (keluar) dan tidak diikuti dengan isim, juga pada kata tersebut tidak anda letakkan tempat untuk dhamir (kata ganti) sesuatu, atau apabila anda mengatakan "Zaid" dan tidak diikuti dengan fi'il atau isim yang lain dan anda tidak men-dhamir-kannya pada hati anda, hal itu hanyalah merupakan suara yang anda bunyikan saja. Dengan begitu jelaslah bahwa pikiran tidak berkaitan dengan makna-makna nahwi yang menjadi tempat pijakan makna-makna pembicaraan dalam jiwa, kemudian pembicaraan-pembicaraan itu anda susun berdasarkan susunan makna­maknanya ketika dibicarakan secara teratur."

Setelah memberikan contoh, Al Jurjani  menyimpulkan argumen mengenai kesahihan dua pandangannya mengenai struktur kata (nudhum) dengan metode ilmiah yang membahasnya.

Selanjutnya beliau mengatakan: "Ketahuilah bahwa struktur kata (nudhum) itu tidak lain hanyalah menempatkan pembicaraan anda pada posisi yang dikehendaki oleh ilmu nahu dan disusun berdasarkan kaidah-kaidah dan prinsip-prinsipnya serta anda mengetahui cara-cara yang akan anda lalui sehingga anda tidak menyalahinya, kemudian anda menjaga tulisan-tulisan (rusum) yang dituliskan untuk anda sehingga tidak ada satu pun yang terlewat."

Setelah Al-Jurjani dengan panjang lebar berargumentasi, beliau menyimpulkan bahwa bentuk makna merupakan tolok ukur balaghah, Selanjutnya beliau menunjukkan bukti-bukti kesalahan mereka yang memandang bahwa komparasi keistimewaan suatu pembicaraan terletak pada dasar makna, bukan pada dssar bentuk makna.

Al-Jurjani kemudian mengatakan: "Apakah anda ragu ketika anda berpikir mengenai firman Allah SWT:

 

 

 

Dan difirmankan: "Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah." Dan air pun disurutkan, perintah di­selesaikan dan bahtera pun kemudian berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim." (Hud: 44)

 

Anda telah melihat i’jaz ayat di atas yang mengalahkan apa yang anda dengar dan lihat - anda tidak akan mendapati ke­istimewaan yang jelas dan keutamaan yang luhur seperti yang anda temukan, kecuali persoalan itu berkaitan dengan pembicaraan­pembicaraan tersebut satu sama lain. Kebaikan dan keutamaannya tidak akan tampak kecuali bila kata yang pertama berkaitan dengan yang kedua, yang ketiga dengan yang keempat dan seterus­nya hingga akh'u. Keutamaan terjadi pada keseluruhannya. Seandainya anda ragu, perhatikanlah sebuah kata pada ayat di atas yang sekiranya anda melihatnya di antara kata-kata yang lain­nya, kemudian pisahkan sendirian, maka ia, sebagaimana posisinya di dalam ayat tampak berpengaruh menunjukkan fashahah. Misal­kan kata "ibla'i" (telanlah) dan lihatlah ia pada kesendiriannya tanpa digabung dengan kata sebelum dan sesudahnya, kemudian juga perhatikan seluruh kata sesudahnya, bagaimana mungkin anda bisa ragu mengenainya ketika sudah maklum bahwa prinsip ke­agungan pada dipanggilnya bumi kemudian diperintah, selanjutnya pada panggilan dengan menggunakan "ya", bukan "ai", seperti pada “ya ayyatuhal-ardh ", kemudian pada penggabungan (idhafah) kata “al-ma" (air) dengan huruf "kaf", juga tidak dikatakan: ibla'i al-ma', selanjutnya pada panggilan terhadap bumi dan perintah terhadapnya sebagaimana layaknya, yang seterusnya diikuti dengan panggilan terhadap langit dan perintah padanya dengan sesuatu yang khusus baginya, dan kemudian dikatakan: "qhidh al-ma'u" (air disurutkan). Kata kerja (fi'il) yang digunakan menggunakan bentuk fa'ilun yang menunjukkan bahwa air ter­sebut tidak disurutkan kecuali berdasarkan perintah yang Maha Memerintah dan kuasa Yang Mahakuasa, selanjutnya hal itu dikuatkan dan ditegaskan dengan firman-Nya: wa qudhiya al-amr (dan perintah diselesaikan), selanjutnya juga disebutkan manfaat perintah-perintah tersebut, yaitu istawat ala al-judiy (bahtera pun kemudian berlabuh di atas bukit Judi). Adapun digantinya kata “al-safinah" (bahtera) dengan kata ganti, sebelum disebutkan, adalah merupakan syarat keluhuran dan petunjuk atas agungnya persoalan, kemudian juga keberhadapan kata “qila" pada ujung ayat dengan kata "qila" pada awal ayat.

Apakah anda melihat sesuatu pada kekhususan-kekhususan i'jaz yang begitu mengguncangkan anda dan membawa anda ketika anda menggambarkannya, pada wibawa yang menguasai jiwa dari berbagai penjuru sebagai sesuatu yang berkaitan dengan lafaz (kata) sebagai suara yang dapat didengar dan sebagai huruf-huruf yang berpautan ketika berbicara? Atau semua itu terjadi karena suatu keserasian yang menakjubkan  di antara kata-katanya? Dengan demikian, jelas tidak perlu diragukan bahwa kata-kata ter­sebut masing-masing tidak memiliki keistimewaan dari segi sebagai sebuah kata semata-mata, juga tidak dari segi sebagai pembicaraan tunggal. Suatu kata dikatakan memiliki keistimewaan dan per­bedaan dari segi keharmonisan makna sebuah kata, dengan makna yang mengikutinya atau sesuatu yang serupa dengannya yang tidak berkaitan dengan kejelasan kata itu.

Di antara ulama besar yang menuiis masalah balaghah dan i’jaz setelah Abdul Qahir Al-Jurjani ialah Al-Zamakhsyari Abul Qasim Mahmud bin Umar bin Muhammad bin Umar Al-Khawa­rizmi, wafat tahun 538 H. Penulis Al-Kasysyaf fi Tafsir AI-Quran, menjelaskan bahwa i’jaz Al-Quran disebabkan dua hal: struktur kalimatnya dan pemberitaannya mengenai persoalan-persoalan gaib. Timbul pertanyaan berkaitan dengan pendapat beliau mengenai persoalan pemberitaannya masalah-masalah gaib. Karena persoalan ini tidak terdapat pada setiap surat AI-Quran, padahal ketika Al-Quran menentang mereka untuk membuat sebuah surat yang serupa dengannya adalah jelas dalam hal struktur katanya, tidak seperti pendapat beliau. Kalaulah pemberitaan mengenai persoalan-persoalan gaib juga merupakan mukjizat, maka mengapa persoalan tersebut tidak terdapat pada semua surat Al-Quran?

Ulama lain yang menulis mengenai balaghah dan i’jaz adalah Muhammad bin Umar Al-Razi, wafat tahun 606 H. Beliau telah berupaya menulis ikhtisar mengenai persoalan balaghah yang di­tulis oleh AI Jurjani dan AI-Zamakhsyari. Setelah beliau adalah Al-Saksaki Yusuf bin Abi Bakar bin Muhammad bin Ali Al-Khawarizmi, wafat tahun 626 H. Beliau menulis Miftah AI-'Ulum yang diikuti oleh Sayyid Yahya bin Hamzah Al-'Alawi Al-Yamani, wafat tahun 749 H. Beliau menulis Al-Thiraz Al-Mutadhammin li Asrar Al-Balaghah wa 'Ulum Naqaiq Al-I'jaz. Selanjutnya, ke­banyakan para ulama yang menulis persoalan tersebut mengikuti atau berbeda pendapat dengan mereka. Jelasnya, semuanya berhutang budi kepada mereka.

 

 

Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. SaLam CinTa - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya